Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

pasca@iainmadura.ac.id

PANORAMA SALAT TARAWIH

  • Diposting Oleh Admin Web Pascasarjana
  • Senin, 2 Maret 2026
  • Dilihat 18 Kali
Bagikan ke

Salah satu pelaksanaan qiyamul Lail adalah shalat tarawih, di samping juga shalat tahajud dan witir. Shalat tarawih dikhususkan adanya di bulan Ramadhan. Shalat tarawih ini biasanya dilaksanakan bergandengan dengan shalat witir, karena adanya hanya di bulan Ramadhan. Maka umat Islam begitu antusias melaksanakannya, apalagi dilaksanakan secara berjemaah. Dan mungkin di antara sekian banyak shalat sunnah yang berjemaah, tarawihlah yang paling banyak jemaahnya, bahkan melebihi jumlah jemaah di setiap shalat fardhu.

Kemudian, mengenai pelaksanaan shalat tarawih itu sangat bervariasi. Ada yang paralel jumlah rakaatnya di satu daerah. Ada yang mengerjakan 20 rakaat tambah witir 3 rakaat. Ada pula yang tarawihnya 8 rakaat disambung dengan witir 3 rakaat. Itu yang biasa berlaku di kalangan muslim Tanah Air. Kalau di luar negeri, di Timur Tengah juga bervariasi, ada yang 10 rakaat, ada yang 20 rakaat, ada yang 36 rakaat, yang dianjurkan dengan 3 rakaat. Tarawih di kalangan muslimin tanah air panoramanya begitu bervariasi dalam mengemasnya. Ada yang hanya shalat tarawih, dianjurkan witir. Ada yang tarawih juga dengan kultum di samping witir. Ada pula yang dibarengkan dengan acara makan-makan bersama dari seluruh jamaah tarawih.

Panorama lainnya di masjid-masjid dan mushalla-mushalla tidak hanya menggelar shalat berjamaah tarawih dan witir, akan tetapi setelah itu dilanjutkan dengan tadarus membaca Al-Qur’an sampai kira-kira jam 22.00. Setelah itu istirahat menunggu sahur. Tadarusnya pun beragam, ada yang tanpa pengeras suara, ada yang pakai speaker dan itulah yang menjadi ciri khas dari umat muslim Indonesia yang jarang bahkan tidak dijumpai di negara-negara lain. yaitu adanya Tadarus Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan animo dan antusias umat Islam, terutama kalangan pelajar, dalam mengisi bulan Ramadhan dengan sesuatu yang bermanfaat sehingga shalat tarawih pun dikemas dengan berbagai macam kegiatan yang dapat mendatangkan jemaah yang banyak. Hal itu sudah menjadi suatu tradisi yang baik yang patut untuk dilestarikan dan dikembangkan dengan sesuatu yang lebih baik untuk masa-masa yang akan datang.

Pelaksanaan shalat tarawih di berbagai negara memiliki keunikan tradisi dan jumlah rakaat yang beragam, mulai dari 10-20 rakaat, dilaksanakan di masjid megah, hingga di ruang publik. Arab Saudi pernah menetapkan 10 rakaat tambah 3 rakaat witir, walaupun biasanya 20 rakaat. Maroko sering melakukan dua putaran semalam. Sementara di New York dilaksanakan di Times Square.

Indonesia: Umumnya melaksanakan 11 rakaat, 8 rakaat tarawih tambah 3 witir, atau 23 rakaat, 20 rakaat tarawih tambah 3 rakaat witir, yang diiringi dengan tadarrus Al-Qur’an dan suasana kebersamaan masyarakat. Perbedaan jumlah rakaat, antara 11 atau 23, di berbagai daerah dan organisasi Islam di Indonesia dan di negara-negara lain didasarkan pada kekayaan khazanah fikih Islam, namun tujuannya sama, yakni memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan. Perbedaan akan memperkaya Khazanah pemikiran umat Islam. Dari perbedaan pula yang disikapi dengan saling menghargai, dan tidak saling curiga, apalagi saling menyalahkan, akan memunclkan kedewasaan berpikir. Kedewasaan berpikir akan membawa umat ini memprioritaskan pada segi persaman, baik dari aspek tujuan dan persatuan. Sedangkan perbedaannya dipersempit dengan sikap moderasi. Moderasi akan menampilkan persaudaraan yang kuat di antara sesama umat Islam. Bervariasinya pelaksanaan shalat tarawih di kalangan umat Islam, yang disikapi dengan moderasi beragama, akan membuka mata dunia, bahwa umat Islam Indonesia dapat dijadikan proyek percontohan bagi umat Islam di luar, bahkan bagi orang non-muslim, bahwa umat Islam, khususnya di Indonesia amat kuat persaudaraannya.