Dari Mekasan ke Makkah, Dari Khobung ke Haramain: Gelombang Umrah Ramadan dan Transformasi Kesalehan Sosial Muslim Madura
- Diposting Oleh Admin Web Pascasarjana
- Senin, 2 Maret 2026
- Dilihat 20 Kali
BEBERAPA tahun terakhir, terutama setiap memasuki bulan suci Ramadan, bandara dan biro perjalanan umrah di Madura dan sekitarnya tampak lebih sibuk dari biasanya. Dari Pamekasan, Sampang, Sumenep hingga Bangkalan, gelombang keberangkatan menuju Tanah Suci meningkat signifikan. Haramain—Makkah dan Madinah—seolah menjadi magnet spiritual yang kian kuat, terutama di bulan yang diyakini penuh keberkahan itu.
Fenomena ini tidak sekadar peristiwa ibadah individual. Ia adalah gejala sosial yang menarik untuk dibaca secara reflektif dan analitis: bagaimana mobilitas religius masyarakat Madura bergerak dari pola ibadah lokal menuju horizon global, serta bagaimana umrah perlahan menjadi bagian dari gaya hidup religius modern. Secara historis, religiusitas masyarakat Madura tumbuh dalam ruang-ruang lokal: masjid kampung, langgar, khobhung, majelis taklim, dan pesantren. Tradisi tahlilan, maulid, manaqiban, dan ziarah kubur menjadi ekspresi kesalehan yang membumi. Ikatan antara kiai, santri, dan masyarakat membentuk ekosistem keagamaan yang kuat dan khas.
Namun kini, ruang religius itu meluas. Jika dahulu puncak mobilitas spiritual adalah haji—yang menunggu giliran belasan tahun—maka kini umrah Ramadan menjadi pilihan yang lebih terjangkau dan fleksibel. Perjalanan dari Madura menuju Haramain tidak lagi dipandang sebagai peristiwa langka, melainkan semakin lumrah.
Di sinilah terjadi pergeseran penting: dari religiusitas berbasis lokal menuju religiusitas yang terhubung secara global. Umat tidak lagi hanya merasa menjadi bagian dari komunitas kampung atau pesantren, tetapi juga dari komunitas muslim dunia yang berkumpul di Masjidilharam dan Masjid Nabawi.
Spiritualitas atau Simbolik? Pertanyaannya, apakah gelombang umrah Ramadan ini murni didorong oleh kerinduan spiritual?
Tidak dapat dipungkiri, Ramadan di Haramain memiliki daya tarik religius yang luar biasa. Salat di Masjidilharam, berbuka bersama ribuan jemaah lintas bangsa, serta iktikaf di sepuluh malam terakhir memberikan pengalaman transendental yang sulit ditandingi. Banyak jemaah pulang dengan kisah haru, perubahan sikap, dan tekad memperbaiki diri.
Namun dalam masyarakat modern, setiap praktik religius juga berinteraksi dengan dimensi sosial dan simbolik. Dokumentasi di media sosial, status ”baru pulang umrah”, serta gelar sosial tertentu ikut membentuk makna baru atas ibadah tersebut. Umrah tidak lagi sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga representasi identitas—bahwa seseorang mampu, saleh, dan terhubung dengan pusat Islam global.
Di titik ini, umrah mulai bergerak dari ranah ibadah privat menuju ruang sosial yang lebih luas. Ia menjadi simbol mobilitas, prestise, sekaligus kesalehan.
Fenomena meningkatnya umrah Ramadan juga tak lepas dari berkembangnya industri perjalanan religius. Biro travel menawarkan paket khusus Ramadan, cicilan umrah, hingga program ”umrah plus wisata”. Bahasa promosi yang digunakan pun sering kali menggabungkan diksi spiritual dan gaya hidup: ”Nikmati Ramadan terbaik Anda di Tanah Suci.”
Di sinilah kita menyaksikan lahirnya apa yang bisa disebut sebagai gaya hidup religius modern. Kesalehan tidak lagi hanya diukur dari intensitas mengikuti pengajian lokal, tetapi juga dari pengalaman global—berapa kali umrah, apakah pernah iktikaf di Masjidilharam, atau berbuka di pelataran Kakbah.
Bagi masyarakat Madura yang dikenal kuat memegang tradisi keagamaan, fenomena ini menarik. Di satu sisi, ia menunjukkan peningkatan kesadaran beribadah dan kemampuan ekonomi. Di sisi lain, ia menuntut kedewasaan spiritual agar ibadah tidak tereduksi menjadi sekadar simbol sosial.
Gelombang umrah Ramadan sebenarnya dapat dibaca sebagai transformasi kesalehan sosial. Kesalehan tidak lagi hanya berbentuk ritual lokal, tetapi juga mobilitas lintas negara. Identitas keislaman Madura kini bernegosiasi dengan ruang global.
Transformasi ini seharusnya tidak dipahami sebagai ancaman terhadap tradisi lokal, melainkan sebagai perluasan cakrawala. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan: agar kerinduan pada Haramain tidak membuat kita lupa pada masjid kampung; agar pengalaman spiritual global tetap berbuah pada penguatan solidaritas sosial di tanah sendiri.
Umrah Ramadan akan selalu memiliki daya magisnya. Namun lebih penting dari perjalanan fisik dari Mekasan ke Makkah adalah perjalanan batin dari simbol menuju substansi. Jika sepulang dari Tanah Suci seseorang menjadi lebih jujur, lebih peduli, dan lebih rendah hati, maka di situlah transformasi kesalehan sosial benar-benar terjadi.
Gelombang ini mungkin akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang. Tugas kita bukan menghakimi, melainkan merefleksikan: apakah mobilitas religius ini benar-benar mendekatkan kita kepada Tuhan, sekaligus kepada sesama? Jika jawabannya ya, maka dari Mekasan ke Makkah bukan sekadar perjalanan geografis, tetapi perjalanan peradaban spiritual masyarakat Madura.
Tulisan ini telah terbit di Radar Madura Minggu, 1 Maret 2026
https://radarmadura.jawapos.com/catatan/747255952/dari-mekasan-ke-makkah-dari-khobung-ke-haramain-gelombang-umrah-ramadan-dan-transformasi-kesalehan-sosial-muslim-madura?page=2